Fase Perkembangan Penonton Anime di Jejaring Sosial

Advertisement

Sekali-kali curhat lagi, mungkin curhatan ini bisa menjadi pijakanmu (yang baru-baru ini sedang benar-benar menyukai hobi menonton film apalagi menonton film anime) untuk mengetahui, belajar, dan mencoba mengubah pola pikirmu yang selama ini telah memalukan dirimu sendiri di Dumay (Dunia maya).

Pertama-tama sebelum melihat artikel ini ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu apa arti dari kata 'anime', 'animasi', 'cartoon' dan 'kartun', carilah dengan teliti agar tidak sampai keliru dengan kata-kata tersebut, kalau sudah ketemu jangan hanya langsung percaya saja dari satu sumber, kamu harus cari lagi untuk memastikan kebenaran dari sumber yang pertama.

Jika sudah mengerti, berarti kamu sudah memasuki fase ke tiga dari 'fase perkembangan sikap penonton anime' yang akan saya buat di artikel ini.

Mungkin kamu tidak setuju dengan curhatan kali ini karena disini sebagian besar adalah subjektif (ya jelas namanya juga curhat) namun bagian dari kecil lainnya adalah objetif.

Subjektif karena fase ini fase yang saya buat sendiri bukan berdasarkan dari data yang dijabarkan oleh suatu organisasi, objetif karena saya, adik dan teman-teman saya pernah mengalaminya (termasuk dengan teman-teman facebook di akun dummy saya).

Akari mizunashi - aria the animation

Sebelum memulai pokok masalah artikel ini ada baiknya kita beralih ke topik yang lain terlebih dahulu, tenang saja topik ini berkaitan dengan artikel yang saya buat ini.

Jejaring sosial, berbicara jejaring sosial pasti kamu akan langsung berpikir dan mengarahkan penggambaranmu ke jejaring sosial yang terkenal, yaitu Facebook.

Hanya sebagai catatan saja, sampai saat ini artikel dibuat, Facebook telah menjadi jejaring sosial terpopuler se-Indonesia lalu di ikuti dengan Twitter (silahkan kamu cari informasi ini).

Dulu, ketika pertama kali saya mendaftar Facebook saya belum terlalu mengerti tentang Facebook. Awalnya saya cuma berpikir, saya dapat bermain game di situs ini dan dapat berbicara jarak jauh dengan teman-teman lama saya.

Itu baru awal, karena pada waktu itu saya juga baru mengenal Internet, jadi pemikiran saya hanya game, game dan game.

Setelah mengetahui sedikit dari kegunaan Facebook saya langsung berpikir, ternyata saya bisa membuat status sebebas mungkin, saya tulis apapun itu mulai dari kekalahan game, hingga sampai kegiatan saya sehari-hari akan saya tulis di Facebook (aduh malunya).

Jatuh sedikit pasti saya akan tulis di Facebook, mau tidur juga akan saya tulis di Facebook, ada PR (Pekerjaan Rumah) juga akan saya tulis di Facebook, kalah dari game juga akan saya tulis di Facebook pokoknya kegiatan sehari-hari saya, saya tulis disitu (malunya minta ampun).

Orang-orang sekarang mungkin pada bilang, "Alay lu, jijik gua liat status lo kayak begitu", yah begitulah saya dulu. Kalau tidak salah dulu status kita hanya bisa dilihat oleh teman dan teman dari teman, jadi pada waktu itu status publik belum ada.

Setelah mengetahui bahwa hal tersebut sangat memalukan saya jadi jarang menulis kegiatan sehari-hari saya, tapi tetap saja sekalinya saya menulis, saya menuliskan sesuatu yang mempermalukan diri saya sendiri di jejaring sosial tersebut.

Beberapa bulan dan mungkin hampir satu tahun kemudian saya telah mengetahui banyak tentang internet dan jejaring sosial, ternyata Facebook juga banyak kegunaan yang lain yang sebelumnya tidak sampai terpikirkan oleh saya.

Jadi ketika saat saya menyadarinya saya jadi jarang menulis, hanya menuliskan hal yang terpenting saja yang saya tulis seperti mempromosikan blog, menuliskan sesuatu yang lucu, tips dan trik, dan hal yang penting lainnya, tentunya diselingi dengan status kegiatan sehari-hari saya yang tidak mempermalukan diri saya.

Sudah mulai agak berubah, ya itulah fase perekembangan saya di jejaring sosial tersebut. Lantas apa hubungannya dengan artikel ini? oke, saya akan jelaskan sebisa dan sejelas mungkin.

Menurut saya orang yang pertama kali mengenal anime, itu juga mempunyai fase perkembangan seperti cerita saya di atas, dari yang belum tahu apa-apa hinga sampai orang itu mengetahuinya dengan jelas, itulah yang saya rasakan dulu sampai sekarang ini.

Ya, ibaratnya seperti fase perkembangan manusia dari bayi yang belum tahu apa-apa hingga sampai orang dewasa yang telah berpengalaman.

Seperti halnya fase perkembangan manusia, pada 'fase perkembangan penonton anime di jejaring sosial' ada lima fase yang telah saya bagi dan telah saya namakan, yaitu (1) penonton anime alay akut (Chuunibyou) (2) penonton anime alay (3) penonton anime menengah (4) penonton anime menengah-atas (5) penonton anime teratas. Kurang lebih beginilah gambaran dan penjelasannya.

fase-fase

1. Alay akut (Chuunibyou)


Alay akut (Chuunibyou)

Alay akut ini seperti bayi, orang yang baru mengetahui tentang/menonton anime dan baru mengetahui yang berkaitan dengan Jepang.

Orang ini mempunyai khayalan tingkat tinggi bahkan menurut pandangan orang lain orang ini seperti orang gila karena menuliskan sesuatu di jejaring sosial dengan khayalan anehnya yang tingkat tinggi, seperti mengaku Tuhan, ingin menjadi bagian karakter 2D dan khalayan tingkat tinggi lainnya.

Orang ini tidak memandang tempat dan tidak memandang teman-teman jejaring sosialnya, apapun yang berkaitan dengan anime dia akan menuliskan yang berkaitan dengan anime di akun jejaring sosialnya jadi bisa meresahkan teman-teman jejaring sosialnya yang tidak mengetahui jelas tentang anime.

Selain itu, orang ini juga akan menirukan apa yang telah dilakukan oleh karakter-karakter anime yang telah ditontonnya, seperti sikap, gaya pengucapan dan menirukan hal lainnya yang mirip seperti karakter anime.

Nama akun jejaring sosial juga akan disamakan dengan nama karakter anime yang telah difavoritkan, foto profil akan bergonta-ganti sesuai dengan adegan yang disukainya dan bahkan ada yang bergonta-ganti sehari sekali.

Biasanya di alay akut ini tontonannya harus ada karakter perempuan yang cantik-cantik dan berdasarkan grafis yang bagus, anime di bawah tahun 2006 tidak akan disukai karena pada tahun tersebut jarang ada anime dengan karakter yan cantik-cantik dan tentunya grafisnya masih rendah dibandingkan dengan tahun 2010 ke atas.

Terakhir, pada alay akut ini ada keinginan kuat untuk pergi ke Jepang dan dipikirannya itu kalau tinggal di Jepang lebih enak dibandingkan di negrinya sendiri (Indonesia).

Ringkasnya, untuk orang yang berada di fase ini mereka tergila-gila akan adanya anime, orang yang berada di fase ini adalah awal barunya ikut-ikutan/coba-coba saja.

Pada fase ini terlalu banyak menghayal yang tidak jelas, sering kali membandingkan (dengan film-film barat ataupun film negrinya sendiri) kalau anime itu adalah yang terbaik, orang yang berada di fase ini belum bisa beradaptasi dengan hal yang mengenai anime.

Apapun yang dikatakan orang lain dia tidak akan mempercayainya, dia tetap berdiri di jalannya sendiri (walaupun itu jalan yang salah).

Intinya, dia belum tahu apa-apa dan mudah terpengaruh dengan anime yang di tontonnya.

2. Alay


Alay

Pada fase ini ibarat kata seperti anak-anak, jadi hampir seperti alay akut dimana orang ini akan menirukan karakter-karakter anime yang telah ditontonnya, akan tetapi di fase ini tidak separah dengan masa alay akut dimana khayalannya itu tinggi banget dan menirukannya itu tidak separah dengan alay akut.

Pada fase ini, orang masih akan menuliskan sesuatu tentang anime di jejaring sosial, isi tulisan tersebut contohnya seperi anak alay umumnya, dimana kamu telah jatuh dari tangga lalu menuliskan di jejaring sosial bahwa kamu terluka.

Begitu juga dengan ini, adegan apapun yang ada di anime mau itu lucu, senang, sedih atau apaupun itu akan di tulis di jejaring sosial, profil juga masih berupa anime dan bergonta-ganti setiap ada adegan yang disukainya.

Tontonannya juga seperti alay akut dimana hanya mencari perempuan yang cantik-cantik dan memilih grafis yang bagus, biasanya di fase ini kebanyakan memilih genre ecchi.

Keinginan untuk pergi ke Jepang masih kuat namun agak berkurang sedikit. Nama yang ada di jejaring sosial masih suka memakai nama karakter anime kesukaannya.

Ringkasnya, untuk orang yang berada di fase ini mereka tetap masih tergila-gila, hanya saja kegilaan tersebut tidak separah dengan alay akut, orang yang berada di fase ini sudah mulai beradaptasi dengan hal yang berkaitan dengan anime.

Terkadang suka membandingkan (dengan film-film barat ataupun film negrinya sendiri) kalau anime itu adalah yang terbaik.

Apapun yang dikatakan orang lain dia sedikit percaya dan hampir tetap (sedikit goyah) berdiri di jalannya sendiri (walaupun itu jalan yang salah).

Intinya, orang yang berada di fase ini sudah tahu sedikit mengenai anime dan masih terpengaruh dengan anime yang di tontonnya.

3. Menengah


Menengah

Menengah ini sama seperti dengan masa remaja dimana orang ini masih labil-labilnya, jadi di fase ini masih lebih baik dengan fase sebelumnya.

Orang yang berada di fase ini akan berpikir kalau meniru-nirukan karakter anime itu tidak baik dan membuat dirinya sendiri merasa malu, orang ini juga akan jarang menuliskan sesuatu tentang anime di jejaring sosial, jarang bukan karena dia malas.

Jarang karena dia telah merasa malu dengan tulisan-tulisan sebelumnya yang jika ada adegan apa-apa dia akan menuliskan sesuatu di jejaring sosial, jadi untuk tidak meresahkan teman-teman jejaring sosialnya dia jarang menuliskan tentang anime di akun sosialnya sendiri.

Tontonannya tidak seperti masa alay dimana tontonannya itu hanya memilih karakter perempuan yang cantik-cantik dan grafis yang memukau.

Disini dia memilih-milih biasanya memilih berdasarkan kepopuleran yang menurut orang-orang itu bagus. Untuk anime tahun 2006 ke bawah dia masih ragu, apakah ingin menontonnya atau tidak karena di tahun itu dia tahu dan meraasa bahwa grafisnya itu jelek-jelek, tapi karena penasaran dia tetap menontonnya walaupun terpaksa.

Profil di akun sosialnya masih bergonta-ganti juga, hanya saja diselingi dengan foto profilnya sendiri, jadi terkadang dia memasukan foto dia sendiri untuk dijadikan foto profilnya.

Alasan dia memakai foto karakter anime mungkin dikarenakan minder, atau mungkin tidak ingin orang-orang mengenali wajahnya lebih jauh atau mungkin juga bisa karena tidak ingin fotonya di acak-acak oleh orang lain, jadinya dia pake foto karakter anime.

Nama akun jejaring sosialnya pake nama samaran dia sendiri atau bahkan nama aslinya, yah, pokoknya namanya itu tidak berkaitan dengan anime.

Keinginan untuk pergi ke Jepang ragu-ragu, dan selalu bertanya-tanya apa benar tinggal di Jepang itu lebih baik daripada di negrinya sendiri (Indonesia).

Ringkasnya, orang yang berada di fase ini telah beradaptasi namun masih bimbang dengan apa yang dia jalani, jadi masih ada kekeliruan jawaban dari pertanyaan yang selama ini dia tanya.

Orang yang berada di fase ini telah bosan membeda-bedakan dan tidak akan lagi membeda-bedakan anime dengan film lainnya.

Apapun yang dikatakan orang lain dia akan mencari sumber sendiri untuk memastikan pernyataan tersebut.

Intinya, orang yang berada di fase ini sudah tahu dengan anime dan sedikit terpengaruh dengan anime yang di tontonnya.

4. Menengah-atas


Menengah-atas

Menengah-atas seperti dengan halnya masa memasuki dewasa, jadi sudah berpengalaman dan mengerti atau mengetahui betul tentang anime. Orang yang berada di fase ini tidak menirukan karakter-karakter anime.

Kalau ingin menonton anime orang ini akan melihat rekomendasi-rekomendasi yang menurutnya terpercaya, review dan beserta hasil dari diskusi, jika ingin melihat anime yang populer seperti anime yang ceritanya mainstream maka orang ini akan menontonnya diwaktu luang, dimana tidak ada kesibukan di dunia realnya, jadi hanya sebagai penghibur saja.

Orang ini tidak labil melainkan netral, menonton anime tidak memilih-milih, baik itu cerita yang mainstream maupun yang tidak mainstream semuanya ia lakukan untuk mengetahui perkembangan cerita anime yang tiap musimnya berubah-ubah.

Terkadang dia akan mengolok-ngolok dengan orang yang berada di fase alay dan fase alay akut namun ada juga yang hanya diam saja, sebab dia tahu bahwa suatu saat nanti orang yang berada di fase alay akut akan berubah menjadi seperti dirinya.

Kalau menulis yang berkaitan dengan anime, dia akan memilih-milih dan akan memikirkan dengan detail apakah ini layak di bagikan atau tidak, jika layak maka akan di bagikan dan akan dia tulis, namun jika tidak maka akan didiamkan saja.

Membagikannya juga bukan tidak ditempatnya melainkan pada tempatnya, seperti grup yang menompang mayoritas anime lovers. Untuk Menengah-atas ini biasanya banyak yang Hype pada anime yang dia sukai, dan biasanya ke-Hype (melebih-lebihkan) tersebut akan di tulis di akun sosial medianya sendiri.

Anime yang biasa dia suka biasanya jarang dibicarakan oleh penonton anime lainnya namun jika ada anime yang mainstream yang telah dia sukai dia akan diam saja terkecuali kalau anime itu ada diskusinya, maka dipastikan orang itu akan ikut.

Keinginan untuk pergi ke Jepang sudah tidak ada lagi karena dia tahu bahwa banyak hal yang indah juga di negrinya sendiri. Nama akun jejaring sosialnya sama seperti fase menengah, tidak berkaitan dengan anime. Foto profillnya juga sama seperti menengah.

Ringkasnnya, Fase Menengah-atas ini adalah fase yang sudah berpengalaman, apapun untuk menuliskan sesuatu tentang anime pasti akan pada tempatnya, tujuannya agar tidak meresahkan teman-teman jejaring sosialnya yang tidak mengenal dengan anime.

Orang yang ada di fase ini tidak akan memebeda-bedakan anime dengan film lainnya, apapun yang di katakan orang dia akan mencari selama mungkin sampai benar-benar orang itu menemukan apa yang dicarinya.

Intinya, orang yang berada di fase ini sudah tahu betul dengan anime dan tidak terpengaruh begitu saja dengan anime yang di tontonnya.

5. Teratas


Teratas

Untuk yang satu ini sudah berpengalaman banget, jadi ibaratnya seperti lansia dimana dia telah mengurangi aktifitas dan memantau sedikit tentang kebugaran badannya.

Begitu juga dengan fase ini, fase teratas ini adalah perubahan akhir dari lingkaran fase perubahan penonton anime di jejaring sosial yang telah saya buat, karena dia telah benar-benar tahu betul tentang anime.

Dia tidak akan menirukan dan menulis sesuatu yang berhubungan dengan anime, sekalinya untuk menulis, pasti akan bermanfaat dan itu pun juga pada tempatnya, jadi tidak meresahkan teman-teman jejaring sosial lainnya yang tidak tahu betul mengenai anime.

Jika ada orang yang sedang mengolok-ngolok (atas-bawah, maksudnya fase perkembangan menengah sedang mengolok-ngolok fase alay akut ), dia hanya memantau atau lebih tepatnya hanya menonton saja dan terkadang juga dia menempatkan dirinya hanya untuk meluangkan waktu saja.

Orang yang berada di fase ini sudah jarang menonton anime, walaupun ingin menonton dia akan melihat review dan informasi tentang anime yang ingin ditontonnya.

Seperti layaknya lansia, dia juga akan memantau perkembangan anime mulai dari studio, seiyuu yah pokoknya yang berkaitan dengan anime.

Nama, foto profil semuanya itu asli agar orang-orang mengenalinya, ya, mungkin karena urusan bisnis di dunia real jadinya dia memakai foto profil yang asli, tapi ada juga yang pake karakter anime untuk menyembunyikan identitasnya namun di saat ada perkumpulan yang silaturahmi kuat dia akan memberikan identitas aslinya.

Sama seperti menengah-atas, orang yang berada di fase ini dia tidak akan memilih-milih anime, seperti yang di sebutkan di atas kalau ingin menonton anime dia akan melihat review dan informasi tentang anime yang ingin di tontonnya.

Ringkasnya, Fase teratas ini adalah fase yang sudah benar-benar berpengalaman, apapun yang mengenai anime dia hanya berkomentar saja, jika dibagikan maka akan bermanfaat untuk yang lain.

intinya, orang yang berada di fase ini sudah benar-benar tahu betul dengan anime dan tidak akan terpengaruh begitu saja dengan anime yang di tontonnya.

Di atas itu hanya baru penggambaran saja, untuk sifatnya saya juga kira-kira dapat menggambarkan perekembangan tiap fasenya, hasil ini saya dapatkan dari pengalaman, teman-teman akun dummy facebook saya, dan terakhir melihat adik saya yang menonton anime.

Fase perkembangan sifat penonton anime


Fase Alay akut - Alay : Sifatnya mudah marah (walaupun dia sadar telah melakukan hal tersebut), jika orang ini menonton dirumah lalu ada orang yang lain yang menganggu pasti dia akan marah karena dia lagi berfokus dengan anime yang ditontonnya, biasanya pada fase ini kebanyakan orang mengalami Chuunibyou. Pada fase ini orang tidak bisa membedakan mana yang realitas dan mana yang khayalan.

Fase alay - Menengah :  Sifatnya agak marah (walaupun dia sadar telah melakukan hal tersebut), jika diganggu saat menonton terkadang dia tidak akan marah, terkadang mengalami Chunnibyou (walaupun dia sadar telah mengalami Chuunibyou dia mencoba untuk menjauhkan dan menghilangkan kebiasannya itu). Orang yang berada di fase ini telah bisa sedikit membedakan mana yang realitas dan mana yang khayalan.

Fase Menengah - Menengah-atas : Sifatnya terkadang marah dan terkadang tidak (walaupun dia sadar telah melakukan hal tersebut dia ingin mencoba untuk mengubah sifatnya itu), jika diganggu saat menonton dia akan merelakan dan akan mengulanginya lagi. Pada fase ini orang telah membedakan mana yang realitas dan mana yang khayalan. Selain itu, di fase ini orang sudah bebas dari Cuunibyou yang selama ini dia rasakan (tentunya akan mengingat kebiasaan tersebut betapa malunya kelakuan seperti itu).

Fase Menengah-atas - teratas : Sifatnya tidak mudah marah karena mengingatkan pernah mengalami hal-hal yang berada di fase sebelumnya,  jika diganggu saat menonton dia akan merelakan dan akan mengulanginya lagi. Pada fase ini orang sudah tidak lagi membedakan mana yang realitas dan mana yang khayalan, karena dia sudah tahu dengan keduanya (walaupun dia mengkhayal, dia akan memikirkan waktu yang tepat dimana dia berkhayal).

Ciri-cirinya

kurang lebih begini

Fase Alay akut - Alay : Sering mengolok-olok jika ada orang yang menjelek-jelekan karakter ataupun anime yang disukainya. Selalu membeda-bedakan 'anime' dan 'kartun', selalu menuliskan yang berkaitan anime sekecil apapun itu masalahnya, tidak menerima kalau dipanggil otaku ataupun wibu. Menggunakan Bahasa Indonesia-Jepang di saat menuliskan sesuatu.

Fase Alay - Menengah : Sedikit menerima jika ada orang yang menjelek-jelekan karakter ataupun anime yang disukainya. Terkadang membedak-bedakan 'anime' dan 'kartun', menuliskan yang berkaitan anime sekecil apapun itu masalahnya, sedikit menerima kalau dipanggil otaku ataupun wibu. Sedikit menggunakan Bahasa Indonesia-Jepang di saat menuliskan sesuatu.

Fase Menengah - Menengah-atas : Menerima jika ada orang yang menjelek-jelekan karakter ataupun anime yang disukainya. Tidak membedak-bedakan 'anime' dan 'kartun', terkadang menuliskan yang berkaitan anime , menerima kalau dipanggil otaku ataupun wibu, namun dia berpesan untuk lebih baik memanggil namanya sendiri. Sudah tidak menggunakan bahasa Jepang.

Fase Menengah-atas - Teratas : Menerima jika ada orang yang menjelek-jelekan karakter ataupun anime yang disukainya. Sudah tidak membedak-bedakan 'anime' dan 'kartun', karena dia sudah tahu betul informasi yang berkaitan dengan anime. Menulis hanya jika dia ingin saja dan itu juga pada tempatnya, menerima kalau dipanggil otaku dan weabo hanya saja dia berpesan dengan sesopan mungkin untuk memanggil namanya.

Itulah curhatan dari saya, semoga saja curhatan ini bisa menjadi pijakanmu untuk mengubah sikapmu ataupun pola pikirmu mengenai anime.

Yah walaupun garis besarnya artikel ini adalah subjektif namun tidak salahnya untuk menggambarkan orang-orang yang ada disekitarmu, ingat yah hanya menggambarkan, jangan saling mengolok-olok karena pada dasarnya kamu juga pernah mengalami.

Ada yang ingin ditambahkan, silahkan berkomentar. Ada yang ingin dikoreksi, silahkan berkomentar. Ada yang ingin membantah, silahkan berkomentar. Semua boleh berbeda pendapat karena pada dasarnya manusia itu memiliki pola pikir yang berbeda-beda, boleh berkomentar asal jangan saling menjatuhkan satu sama lain.

Apa cosplayer itu merupakan Fase alay? saya tidak tahu, disini saya hanya melihat berdasarkan apa yang ada di jejaring sosial, tentunya melewati pembicaraan dengan teman-teman (walaupun tidak kenal).

Jadi artikel ini 'jangan menjadi patokanmu' untuk menggambarkan orang yang berada di dunia real, sebab di dunia real itu berbeda dengan dunia maya. Jika didunia real orang itu pendiam, pintar, atau bahkan disukai oleh teman-temannya namun bisa saja di dunia maya orang itu sebenarnya adalah alay dan bisa saja orang itu adalah alay akut, begitu sebaliknya.

Berdasarkan artikel ini ada yang namanya, "menirukan gaya karakter seperti anime". Perkataan itu maksudnya bukan dilihat dari penampilan, melainkan dari gaya berbicara ketika sedang chatting dengan temannya, jika di dunia realnya sikapnya wibawa ternyata di dunia maya itu sikapnya menjadi anak-anak atau terlihat cool seperti gaya pengucapan yang dilakukan oleh karakter yang disukainya, kurang lebih begitulah.

Maaf yah terlalu panjang .... Jangan terlalu serius karena ini cuma curhatan


Share this with short URL: Get Short URL
loading short url

Advertisement





Advertisement